Hanya Miliki Satu TPA, 15 Ton Lebih Sampah di Kota Malang Terbengkalai Setiap Hari

Kondisi tumpukan sampah di TPA Supit Urang saat ditinjau Wali Kota Malang Sutiaji (berbaju batik topi hitam) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Kondisi tumpukan sampah di TPA Supit Urang saat ditinjau Wali Kota Malang Sutiaji (berbaju batik topi hitam) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

BANGKALANTIMES, MALANG – Masalah infrastruktur penanganan sampah hingga terbatasnya sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu penyebab banyaknya sampah yang kurang terkelola dengan baik. Di Kota Malang, karena hanya memiliki satu tempat pembuangan akhir (TPA), 15 ton lebih sampah terbengkalai setiap harinya. 

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Diah Ayu Kusumadewi menyampaikan, dalam satu hari setidaknya ada 600 ton lebih sampah yang dihasilkan dari berbagai sumber. Sementara yang dapat ditangani DLH per harinya adalah 527,30 ton atau 79,05 persen.

"Dari jumlah itu, sampah yang tidak terkelola tiap hari di Kota Malang sebanyak 15,1 ton atau sekitar 2,26 persen dari jumlah sampah Kota Malang," katanya saat memaparkan materi dalam FGD Refleksi Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau Menuju Kota Malang Nyaman di Hotel Swiss Belinn Malang, Selasa (25/6/2019).

Itu sebabnya, lanjut Diah, Pemkot Malang terus berupaya mencari jalan keluar yang tepat dalam menangani masalah sampah. Salah satunya dengan mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah. Kemudian mendaur ulang sampah di Pengembangan Rumah PKD (Pilah, Kompos, Daur Ulang).

Dari 73 TPS di Kota Malang, lanjut Diah, saat ini ada 27 unit TPS yang memiliki rumah PKD. Rumah PKD ini sendiri mampu menekan jumlah sampah rumah tangga dan setiap hari mencapai 24,3 ton. Selain itu, proses daur ulang  selalu ditekankan untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan setiap TPS yang ada di perkampungan.

Lebih jauh Diah menyampaikan, upaya daur ulang juga dilakukan melalui pengelolaan sampah di TPA yang ramah lingkungan dengan sistem sanitary landfill dan pemanfaatan gas metan. Hal itu kemudian dimanfaatkan untuk listrik dan pengganti elpiji masyarakat sekitar TPA Supit Urang.

"Dan upaya lain yang dilakukan di antaranya mengadakan program kampung bersinar, rumah daur ulang, lemberantasan kantong belanja sekali pakai, hingga peningkatan dan pengembangan TPA Supit Urang," tutup perempuan berhijab ini.

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]bangkalantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]bangkalantimes.com | marketing[at]bangkalantimes.com
Top